Sabtu , | WIB

Jumat, 27 Juni 2014 - 10:33:39 WIB
PESTA DEMOKRASI PILPRES TERJADI SERANGAN FAJAR DAN MONEY POLITIK
Pariwisata - Dibaca: 68256 kali


Lahane Azis

SURABAYA,INTELIJENPOST.COM Pesta Demokrasi untuk Pemilihan Presiden di laksanakan dalam 5 Tahun sekali, jadi sudah tidak asing lagi kalau terjadi serangan fajar untuk membagi – bagikan uang ( Money Politik  )kepada rakyat sekaligus menitipkan tanda gambar, nomor partai atau nama calon Presiden dan Wakil Presiden untuk dapat menang dalam Pemilu, tanggal 9 Juli 2014 nanti.

Menurut Ketua Kordinator LSM. Pemantauan Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah ( PKA- PPD ) Seluruh Indonesia Lahane Aziz mengatakan, sesuai isu atau benar akan terjadi money politik untuk memenangkan di Pilu nanti untuk kedua pasangan Pilpres Prabowo – Hatta dan Jokowi – Jk, ini sudah barang tentu akan terjadi untuk kedua pasangan Capres – Cawapres tersebut, jelas Aziz.

Selanjutnya, yang paling berpeluang besar untuk melakukan serangan fajar terkait bagi – bagi uang atau money politik kepada rakyat yang punya hak sebagai pemilih, yang diduga kuat melaksanakan hal ini adalah pasangan Capres Jokowi – Jusuf Kalla karena terbukti secara terus terang mengakui bahwa, selain mencari dukungan suara juga membuka kotak bagi dermawan atau pendukungnya agar memberikan sumbangan yang sudah terkumpul berupa uang tunai kurang lebih Rp. 45 meliar, maka dengan dana bantuan inilah yang akan dibagi – bagi kepada rakyat, ungkap Aziz.

Sedangkan untuk pasangan Capres Prabowo – Hatta, juga akan terlibat money politik tapi tidak keluarkan banyak, sebab yang mendukung dan tim sukses kedua pasangan Capres ini kebanyakan orang yang berkapitalis dan suara yang direbut dari kalangan masyarakat bawa, ketua adat, Ulama ( Ki’yai )Tokoh masyarakat, Guru dan PNS, semua dukungan tidak utamakan uang yang diutamakan pilih nomor satu Capres – Cawapres yang ideal serta berpotensi membangun bangsa dan Negara, kata sumber yang dapat di percaya.

Dengan terbukanya pesta demokrasi ini, LSM.PKA-PPD mengharapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melaksanakan pesta demokrasi  secara arief dan bijaksana serta diminta kepada Mahkamah Konstitusi ( MK ) menangani maupun memutuskan dengan seadil – adilnya supaya Pemilu berjalan hanya satu putaran karena mengingat kalau pemilu sampai dua putaran berapa uang Negara yang dihambur – hamburkan, tutur Aziz. ( IP )

Berita Lainnya