Rabu , | WIB

Jumat, 08 Agustus 2014 - 17:33:14 WIB
KAMERA WARTAWAN HARIAN BHIRAWA DIRAMPAS DAN HASIL BIDIKANNYA DIHAPUS TIGA OKNUM POLISI
Metro Surabaya - Dibaca: 19499 kali


Ketua PWI Jatim - Kapolda Jatim

SURABAYA,INTELIJENPOST.COM Polisi seharusnya sebagai pelindung, pengayoman bukan menjadi momok kepada masyarakat, hal ini terabadikan pemukulan massa yang dilakukan oleh Polisi, kemudian hal yang paling buruk dengan adanya tindakan arogansi tiga oknum Polisi berpakaian preman yang merampas kamera wartawan serta hasil bidikan pemotretannya di hapus, perbuatan ini sangat tercela dan secara tidak langsung melecehkan seluruh korps wartawan, cetus berbagai sumber.

Kejadian ini berlangsung pada saat massa pendukung Capres- Cawapres Prabowo – Hatta berorasi dan melakukan demo di depan Kantor KPU Jatim, terkait adanya sidang perdana di Mahkamah Konstitusi ( MK) masalah sengketa tuntutan hasil Pemilu 9 Juli 2014, yang di anggap ada kecurangan.   

Selain melakukan aksi pemukulan dengan pentungan kepada dua orang massa Prabowo-Hatta Jatim, aparat kepolisian melakukan aksi tidak terpuji terhadap rekan pers dari Koran Harian Bhirawa yang kameranya di rampas dan hasil yang telah diabadikannya di hapus, Kapolrestabes Surabaya minta maaf dengan insiden ini, ujarnya.

Pengakuan dari Fotografer Harian Bhirawa, Trie Diana yang akrab disapa Iin kepada wartawan di depan kantor KPU Jatim, Rabu (6/8/2014) mengatakan, setelah dirinya mengabadikan aksi pemukulan polisi kepada dua massa Prabowo bernama Marsekan Ibrahim (Tunas Indonesia Raya) dan Rifai (Ketua DPC Partai Gerindra Kab Sidoarjo), kameranya dirampas oleh tiga oknum polisi berpakaian preman.

"Ada 20 frame foto saya yang dihapusi polisi itu. Saya tidak tahu mengapa kamera dirampas. Saya kan tahu kode etik jurnalistik. Setelah dirampas dan dihapusi, polisi itu teriak ngapain sampeyan motret mbak. Lalu saya disuruh keluar,” ungkap Iin.

Puluhan wartawan melakukan aksi protes di depan kantor KPU Jatim. Dan ratusan polisi yang terus berjaga. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta tampak hadir saat aksi tersebut.

"Wajar rekan-rekan pers sampaikan aksi protes, kami memakluminya. Kami akan mengecek kembali pelaku penghapusan foto dari wartawan Bhirawa. Saya sebagai Kapolrestabes minta maaf, tidak ada unsur kesengajaan," tegasnya.

"Kita akan lihat sejauh mana motivasi pelaku itu menghapus foto wartawan, akan ada update dari Polrestabes," pungkasnya.

Dengan kejadian  kasus perampasan kamera wartawan dan penghapusan bidikan kamera yang diabadikan oleh wartawan Bhirawa pada saat melakukan tugas jurnalistiknya di kantor KPU Jatim oleh oknum polisi, akhirnya Ketua DPD Jawa Timur Lembaga Swada Masyarakat Pemantau Kinerja Amaparatur Pemerintah Pusat dan Daerah (PKA-PPD) Lahane Azis, angkat bicara.

“Seharusnya polisi sebagai pengayoman,pelindung kepada masyarakat, bukan menjadi momok kepada masyarakat, apalagi yang diperlakukan ini pada wartawan, yang melakukan tugasnya sebagai jurnalis, hal ini merupakan perlakukan tidak wajar, karena hal ini melanggar undang-undang pokok Pers nomor 40 tahun 1999” kata Azis.

Masih kata Azis, “Dengan kejadian ini meminta kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur untuk menindaklanjuti kasus ini, sampai menemukan pelaku perampasan kamera wartawan, karena ini sudah jelas-jelas melanggar kode etik wartawan dan supaya jelas motif dibalik perampasan yang dilakukan si pelaku”,

Lanjut Azis, pihaknya meminta kepada Kapolda Jatim, guna memberikan sanksi kepada pelaku tersebut. “Apabila ada pelanggaran-pelanggaran hukumnya diminta kepada bapak Kapolda, sebagai orang nomor satu di Jatim, untuk memberikan sanksi kepada pelaku tersebut”.kata Azis

Masih kata Azis, “Ketua PWI Jatim harus mengawal atau mengusut permasalahn ini sampai tuntas, karena ini perlakukan yang dilakukan kepada korps seluruh wartawan di Indonesia”tegas Ketua LSM PKA-PPD, Lahane Azis. (IP)



Berita Lainnya