Jumat , | WIB

Sabtu, 22 September 2018 - 18:00:23 WIB
GARUDA DI DADA, RINGGIT DI KANTONG CERITA DARI PERBATASAN :
Nusantara - Dibaca: 68 kali


Intelijenpost.com

Sintang, Intelijenpost.com

Mengenai sudah 73 tahun Indonesia merdeka, tapi warga di perbatasan masih belum begitu akrab dengan mata uang rupiah. Sehari-hari, warga di Desa Sei Kelik, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat lebih terbiasa bertransaksi dengan mata uang Malaysia, ringgit.

Selanjutnya Celi misalnya. Warga Desa Sei Kelik ini lebih memilih belanja kebutuhan pokok di Pasar Kuari Lacau, Serawak dibandingkan Balai Karangan, Sintang. "Dekat, dua jam pakai jalan kaki [ke Kuari Lacau]. Tidak pernah ke Balai Karangan, ke Malaysia terus. Kalau ke Balai sekitar lima jam [pakai kendaraan bermotor]," ujar Celi saat ditemui di Desa Sei Kelik, Sintang, Senin (17/9).

Lantas seminggu sekali Celi mampir ke Negeri Jiran. Ia membeli kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, gula, kopi, dan gas. Biasanya dia membawa uang ringgit dan rupiah. Di tempat tujuan, ada penukaran mata uang. Kisaran kurs tukar adalah Rp3.500 ribu per ringgit.

Kemudian perjalanan ke Kuari Lacau tak mudah. Pertama-tama Celi harus menyeberang Sungai Ketungau dengan sampan. Lalu ia berjalan kaki melewati jalan setapak ke pos perbatasan yang dijaga Satuan Tugas Batalyon Infanteri 320/Badak Putih. Setelah mengurus soal administrasi, Celi melanjutkan perjalanan melewati Bukit Kelingkang sampai ke tempat tujuan.

Menyangkut perjalanan Desa Sei Kelik berjarak sekitar 6 kilometer dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Sementara jarak Sei Kelik ke Balai Karangan lebih dari 100 kilometer. Perjalanan melelahkan ke Malaysia terpaksa Celi tempuh karena memang akses di perbatasan belum memadai. Selain itu, faktor harga yang lebih terjangkau kantong juga jadi pertimbangan.

"Harga barang masih mahal kita, murah di Malaysia," lanjutnya. Celi tak punya pekerjaan tetap. Namun jika kebun-kebun di Malaysia sedang panen, biasanya Celi dan warga Desa Sei Kelik ikut bekerja di sana sebagai petani. "Kepada Pemerintah, tolong kalau ada kerja di Indonesia, saya mau," ucapnya.

Sementara ditemui terpisah, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/ Tanjungpura Mayjen TNI Achmad Supriyadi mengakui memang masih ada ketergantungan tinggi warga perbatasan terhadap Malaysia. Namun saat ini TNI dan Pemerintah pusat sedang berupaya memutus ketergantungan itu dengan membuka jalan paralel di kawasan perbatasan.

"Menurutny, saya pikir ini [berkurangnya ketergantungan terhadap Malaysia] sejalan, seiring dengan keberhasilan pembangunan infrastruktur. Makin cepat pembangunan, lambat laun [ketergantungan] akan terkikis," kata Supriyadi saat ditemui di Desa Nanga Bayan, Sintang, Selasa (18/9). "Belanja ke Malaysia bukan masalah nasionalisme, tapi akses," tutur dia. ( IP – LIS )



Berita Lainnya