Rabu , | WIB

Kamis, 05 November 2015 - 21:21:24 WIB
KEGAGALAN DIMASA DATANG PELABUHAN LAMONG BAY
Kabar Redaksi - Dibaca: 4331 kali


Oleh Pimpinan Redaksi Intelijenpost.com : Lahane Aziz

Situasi perairan menuju Pelabuhan Teluk Lamong yang merupakan pula alur masuk utama Pelabuhan Tanjung Perak, kondisinya parah oleh sedimentasi dan ratusan bangkai kapal tenggelam. Di perairan tersebut kapal harus antri agar tidak kandas. Kapal yang bisa masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak hanya bermuatan 2000 TEUs, sedangkan kapal kapasitas 5.000 hingga 13.000 TEUs membutuhkan kedalaman perairan minimal 15 meter.

Perkembangan di masa datang, kapal yang beroperasi rata-rata bertonase di atas 100 ribu ton dan hanya bisa dilayani oleh pelabuhan yang mempunyai kedalaman lebih dari 15 meter. Demikian pula dengan fasilitas yang ada. Idealnya International Hub Port memiliki terminal khusus kontainer, curah cair, dan terminal penumpang tersendiri.

Kemudian sebagai gambaran, saat ini dioperasikan kapal kontainer generasi ketiga. Panjangnya lebih dari 300 meter, kira-kira tiga kali lapangan sepak bola, kapasitasnya 8.500 TEUs. Sementara itu alur pelayaran menuju Tanjung Perak, tepatnya di bouy 8 tidak aman bagi pelayaran, lebar alur hanya 100 meter dengan kedalaman 9 meter.

Sebab dan akibatnya kapal harus melintas bergantian satu per satu. Awal Februari tahun 2008, delapan kapal terjebak di bouy 8 selama empat hari. Dari 8 kapal tersebut hanya satu yang berhasil melintas dan tujuh kapal lainnya tertahan dan gagal merapat di Pelabuhan Tanjung Perak. Pendangkalan Selat Madura merupakan penghalang besar Pelabuhan Teluk Lamong. Jika perairan Selat Madura yang menuju Pelabuhan Tanjung Perak tidak dikeruk, prospek bisnis pelabuhan tersebut ke depan akan suram.

 Disisi lain dihadang pendangkalan, jalur pelayaran utama juga terhalang pipa gas Kodeco yang dipasang awal tahun 2007, khususnya di perairan bouy 10. Dengan peralatan canggih berupa sonar dan gyroscope yang terpasang di kapal, terdeteksi adanya pipa melintang di kedalaman 9 meter hingga 10 meter di bawah permukaan laut. Pipa tidak ditanam di kedalaman minimal 30 meter di bawah dasar laut sesuai ketentuan, sehingga rawan tersangkut baling-baling kapal.

Kalau melihat beberapa persoalan tersebut diatas, Pelabuhan Teluk Lamong terlalu premature jika diharapkan mampu menyaingi Singapore Port Authority atau Tanjung Pelepas, Malaysia. Sebagai negara maritime yang berbasis kepulauan, Indonesia memang membutuhkan banyak pelabuhan serta kapal untuk memperlancar transportasi laut antarpulau. Ironinya sebagian besar pelabuhan milik Pelindo tersebut merugi, belum mampu dikelola secara profesional..

Berita Lainnya